MASTER38 MASTER38 MASTER38 MASTER38 BOSSWIN168 BOSSWIN168 BOSSWIN168 BOSSWIN168 BOSSWIN168 COCOL88 COCOL88 COCOL88 COCOL88 MABAR69 MABAR69 MABAR69 MABAR69 MABAR69 MABAR69 MABAR69 MAHJONG69 MAHJONG69 MAHJONG69 MAHJONG69 RONIN86 RONIN86 RONIN86 RONIN86 RONIN86 RONIN86 RONIN86 RONIN86 ZONA69 ZONA69 ZONA69 NOBAR69 ROYAL38 ROYAL38 ROYAL38 ROYAL38 ROYAL38 ROYAL38 ROYAL38 ROYAL38
SLOT GACOR HARI INI SLOT GACOR HARI INI
BOSSWIN168 BOSSWIN168
BARON69
COCOL88
MAX69 MAX69 MAX69
COCOL88 COCOL88 LOGIN BARON69 RONIN86 DINASTI168 RONIN86 RONIN86 RONIN86 RONIN86 MABAR69 COCOL88
ronin86
bwtoto
bwtoto
bwtoto
master38
Search for:
  • Home/
  • EDUKASI/
  • 5 Negara Maju Ini Pernah Alami Krisis Moneter Terburuk dalam Sejarah
Ilustrasi resesi ekonomi/krisis ekonomi global.

5 Negara Maju Ini Pernah Alami Krisis Moneter Terburuk dalam Sejarah

Jumat, 8 September 2023 – 11:33 WIB

Jakarta – Krisis moneter terburuk tak hanya menimpa negara-negara berkembang saja, tapi juga negara-negara maju. Ada beberapa penyebab terjadinya krisis moneter atau krisis keuangan di negara-negara maju, mulai dari faktor internal hingga eksternal.

Baca Juga :

Rusia Minta Bantuan Senjata dari Korut, AS Sebut Sebagai "Kesalahan Besar" dan Tanda Keputusasaan

Dilansir dari berbagai sumber, ternyata ada negara-negara maju yang pernah mengalami krisis moneter terburuk. Dampaknya relatif bagi masing-masing negara, ada yang mata uangnya jatuh, munculnya pengangguran hingga gagal bayar. Ini deretan negara maju yang pernah mengalami krisis moneter atau keuangan:

Baca Juga :

Amerika Anggap Serangan Balik Ukraina Gagal Total, Sebulan Lagi Bakal Tamat

Krisis keuangan Rusia yang juga disebut krisis rubel dimulai pada pertengahan Agustus 1998. Krisis ini mengakibatkan pemerintah Rusia dan Bank Sentral Rusia mendevaluasi rubel dan gagal membayar utangnya.

Baca Juga :

Berbicara Pertama Kali, Netanyahu dan Zelensky Bahas Sistem Pertahanan Sipil Israel di Ukraina

Krisis tersebut berdampak parah pada ekonomi banyak negara tetangga mereka, seperti Lituania, Latvia, Estonia, Belarus, Kazakhstan, Moldova, Ukraina dan Uzbekistan. Salah satu penyebabnya adalah pinjaman luar negeri digunakan untuk membiayai investasi dalam negeri. Ketika tidak mampu membayar kembali pinjaman itu, rubel terpaksa terdevaluasi.

Tahun 2007 hingga 2008, Negara Adikuasa ini diterjang krisis moneter atau keuangan yang yang dikenal juga dengan nama krisis subprime mortgage. Krisis ini merupakan yang paling parah sejak Great Depression yang terjadi pada periode 1929-1939. 

Dampaknya, tak hanya di Amerika, krisis ini telah memicu kekacauan di pasar keuangan di seluruh dunia. Gara-gara krisis Lehman Brother, salah satu raksasa keuangan dunia, ambruk. Lehman mengalami kerugian hingga USD60 miliar karena eksposur di pasar subprime mortgage. 

Pasar finansial dunia juga dilanda kepanikan dan indeks Dow Jones ditutup merosot hingga 504,48 poin. Pasar saham Amerika Serikat menurun drastis dengan nilai yang tersapu akibat krisis mencapai USD8 triliun selama periode 2007-2009. Krisis moneter ini juga menyebabkan pengangguran terus meningkat hingga mencapai 10% pada Oktober 2009.

Krisis keuangan yang terjadi di Yunani pada 2010 merupakan imbas krisis yang di Amerika yang disambut dengan kondisi keuangan negara itu. Salah satunya akumulasi defisit anggaran sebesar 6% selama 30 tahun.

Ditambah lagi negara itu mengadopsi kebijakan moneter dengan seluruh Eropa. Gara-gara krisis ini Yunani mengalami gagal bayar atas utang yang jatuh tempo. Pada 2012 Yunani dinyatakan bangkrut setelah gagal membayar utang sebesar USD138 miliar. Beruntung Yunani kemudian mendapatkan bantuan dari IMF dan Eropa sebanyak USD160 miliar.

4. Swedia

Krisis keuangan di Swedia terjadi pada periode 1990 hingga 1994. Krisis ini bermula dari gelembung perumahan yang kemudian mengakibatkan krisis kredit perbankan dan kebangkrutan bank yang meluas. Untuk meredakan kecemasan, pemerintah Swedia mengumumkan bahwa negara akan menjamin semua simpanan bank dan kreditur dari 114 bank. 
 

Warga Yahudi protes di Swedia

Pemerintah Swedia mengasumsikan utang yang bank macet harus dicatat sebagai kerugian dan menerbitkan kepemilikan (saham biasa) kepada pemerintah. Pemegang saham di bank besar yang tersisa terdilusi oleh rekapitalisasi swasta (artinya mereka menjual ekuitas kepada investor baru). 

Dua bank besar di Swedia, yaitu Nordbanken dan Gotabanken diberikan dukungan finansial dan dinasionalisasi dengan biaya 64 miliar kronor. Utang macet perusahaan dialihkan ke perusahaan manajemen aset Securum dan Retriva yang menjual aset, terutama real estat, yang dipegang bank sebagai jaminan atas utang tersebut.

5. Spanyol

Krisis keuangan Spanyol terjadi pada rentang 2008–2014. Krisis di Negeri Matador ini juga dikenal sebagai Resesi Hebat di Spanyol atau Depresi Besar Spanyol. Krisis ini bermula pada 2008 selama krisis keuangan dunia 2007-20008.

Bendera Spanyol

Photo :

http://travel-agency-spain.blogspot.com

Pada tahun 2012, Spanyol terlambat berpartisipasi dalam krisis utang negara Eropa ketika tidak dapat menyelamatkan sektor keuangannya dan harus mengajukan paket penyelamatan 100 miliar euoro kepada Mekanisme Stabilitas Eropa (ESM).

Penyebab utama krisis Spanyol adalah gelembung perumahan dan tingkat pertumbuhan PDB tinggi yang tidak berkelanjutan. Pendapatan pajak yang menggelembung dari sektor konstruksi dan investasi properti yang melonjak membuat pendapatan pemerintah Spanyol tetap surplus, meskipun pengeluaran meningkat tajam hingga tahun 2007.

Bank-bank di Spanyol melanggar standar Dewan Standar Akuntansi Internasional. Bank-bank di Spanyol mampu menyembunyikan kerugian dan volatilitas pendapatan, menyesatkan regulator, analis, dan investor, dan dengan demikian membiayai gelembung real estat Spanyol.

Krisis ini sangat menghancurkan Spanyol, termasuk penurunan ekonomi yang kuat, peningkatan pengangguran yang parah, dan kebangkrutan perusahaan besar.

Halaman Selanjutnya

2. Amerika Serikat

COCOL88 GACOR77 RECEH88 NGASO77 TANGO77 PASUKAN88 MEWAHBET MANTUL138 EPICWIN138 WORTEL21 WORTEL21 WORTEL21 WORTEL21 WORTEL21